Selasa, 02 Desember 2014


JUDUL ACARA                          : TEKNIK PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays)
TANGGAL PRAKTIKUM          : 1 OKTOBER 2012
                                                   
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Seiring dengan bertambahnya penduduk maka kebutuhan panganpun terus meningkat, namun hasil produksi terus menurun oleh beberapa faktor seperti lahan yang terus menyempit maupun kesalahan metode dan menejemen dalam budidaya tanaman. Untuk mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat maka perlu adanya suatu upaya yang harus dilakukan dalam sektor pertanian misalnya dengan mengembangkan sumber pangan alternatif selain padi, memingat jumlah produksi padi yang terus menurun.  Salah satu sumber pangan alternatif yang bisa digunakan untuk pengganti padi yaitu Jagung (Zea mays L.), hal tersebut dikarenakan tanaman jagung sudah banyak dibudidayakan oleh petani kita serta tanaman jagung juga cocok dan dapat tumbuh dengan baik di iklim kita yang tropis.
            Saat ini tanaman Jagung (Zea mays L.) juga sudah banyak digunakan sebagai makanan pokok di berbagai daerah misalnya Madura dan Nusa Tenggara. Selain sebagai makanan pokok selain beras jagung juga memiliki nilai guna lain, misalnya sebagai bahan baku industri makanan, baik roti maupun snack namun pada keadaan dewasa ini jagung banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak misalnya unggas. Selain memiliki banyak manfaat ekonomi, jagung juga baik bagi kesehatan kita. Dalam jagung terdapat banyak kandungan biologis yang bermanfaat diantaranya vitamin C dan likopen dengan kadar cukup tinggi. Vitamin C dan likopen diketahui memiliki khasiat sebagai antioksidan tubuh dan membantu menjaga kesehatan rambut dan kulit bila dikonsumsi dengan teratur sesuai kebutuhan vitamin tubuh. Selain itu vitamin C dan likopen juga dapat mengobati luka pada kulit apabila ditambah dengan asam folat.
            Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang cocok digunakan sebagai pengganti beras. Hal tersebut dikarenakan pada jagung terdapat karbohidrat dengan jumlah yang mirip dengan padi atau beras. Saat ini jagung sudah menjadi sumber pangan alternatif di berbagai negara misalnya Amerika Serikat. Jagung merupakan tanaman semusim yang banyak di budidayakan di wilayah Indonesia karena prosesnya yang mudah serta biaya produksi yang ringan. Selain mampu dijadikan sebagai bahan subtitusi tanaman pangan pokok atau pengganti beras (padi), produksi jagung juga dianggap jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan padi. Kemudahan ini dikarenakan beberapa faktor perawatan misalnya perawatan akan kebutuhan air pada tanaman jagung (penyiraman). Tanaman jagung tidak banyak membutuhkan air sehingga cocok ditanam di tegal atau sebagai tanaman rotasi padi.
Namun pada saat ini untuk meningkatkan produksi jagung ada beberapa masalah yang harus dihadapi. Salah satu upaya untuk menghapi masalah tersebut antara lain melakukan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas, upaya pengembangan jagung serta penambahan nilai guna tanaman jagung, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, pengembangan unit usaha bersama, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.
Salah satu aspek penting untuk meningkatkan produktifitas tanaman jagung secara nyata adalah penerapan system budidaya tanaman jagung yang benar dan efisien. Oleh karena itu perlu diterapkan metode budidaya tanaman yang dapat berproduksi optimal namun berbiaya murah. Hal tersebut dapat dijalankan dengan menerapkan prinsip-prinsip budidaya modern dan berwawasan limgkungan.
 Prinsip budidaya modern dan berwawasan limgkungan pada tanaman jagung diantaranya persiapan pra tanam yang sesuai yaitu pengolahan lahan dan penyediaan bibit unggul, proses penanaman yang benar yaitu meliputi pengaturan jarak tanam dan penentuan kapan waktu tanam serta lokasi tanm yang ideal, proses perawatan yang meliputi pengendalian hama penyakit, pengairan dan pemupukan. Namun selain beberapa hal diatas faktor yang juga sangat penting adalah panen dan penanagan pasca panen dimana faktor tersebut sangat mempengaruhi kwalitas dari hasil produksi tanaman yang nantinya akan mempengaruhi nilai jual produk. Sehingga dalam budidaya tanaman jagung diperlukan serangkain proses produksi yang tepat dan sesuai guna mendapat hasil yang optimal.
1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman jagung dan kedelai.
2.      Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung dan kedelai yang baik sesuai dengan kondisi tanah.



























BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

            Jagung merupakan tanaman C4, yaitu spesies tanaman yang menghasilkan asam 4-carbon sebagai awal dari penambatan karbon dioksida. Tanaman jagung atau tanaman C4 adalah jenis tanaman monokotil seperti jenis rerumputan teki walaupun sebenarnya lebih dari 300 spesies rerumputan adalah dikotil. Lintasan C4 terdiri dari lebih dari 1000 spesies anggota angiospermae dan tersebar 19 suku klasifikasi tanaman (Salisbury dan Ros, 1995).
            Dalam budidaya tanaman jagung, air merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan dan perkembangannya meskipun jagung tidak membutuhkan air sebanyak padi. Ketersediaan air dalam tanah sangat berkaitan dengan proses penyerapan berbagai unsur hara dan mineral oleh tanaman. Mekanisme penyerapan unsur hara tanaman diketahui bergantyung pada potensi air tanah dan tanaman. Adanya gradiensi osmosis antara potensial air tanah dan tanaman menyebabkan berjalannya proses absorbs dengan baik. Cekaman kekeringan dapat mengakibatkan menurunnya potensi air tanah sehingga proses penyerapan unsur hara menjadi terganggu. Kondisi defisit air tanaman dapat terjadi akibat rendahnya kelmbapan tanah, tingginya tingkat evaporasi, tingginya temperature, tingginya nilai osmotic larutan tanah, pengurasan oksigen di zona perakaran (Akmal, 2008).
            Air berhubungan langsung dengan aktivitas sel, hubungan air dan tanamanadalah pada pemasakan sel. Dengan sebagian besar dari air yang terkandung dalam sel yaitu pada vakuola pusat lapisan tipis sitoplasma bersama-sama dengan gabungan plasmalemmadan tonoplast dapat dilihat sebagai suatu membrane semi-permeable yang kompleks dan memisahkan isi vakuola dari medium eksternal (Fitter, 1992).
            Pupuk merupakan salah satu hal penting dalam produksi tanamana baik jagung dll. Pupuk dapat berbentuk pupuk organic (pupuk alam) ataupun pupuk anorganik (buatan) Pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman, karena ketersediaan unsur hara di tanah tidak selamanya cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar adalah karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), phosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan belerang (S). Unsur-unsur C, H dan O dapat dipenuhi dari udaara dan air. Unsur-unsur N, P dan K merupakan hara primer, unsurunsur Ca, Mg dan S merupakan unsur hara sekunder. Selain itu tanaman membutuhkan unsur-unsur hara micro, yaitu unsur-unsur penting lainnya yang dibutuhknn dalam jumlah sedikit, tetapi menentukan perkembangan tanaman, yakni boron (B), khlor (Cl), tembaga (Cu), besi (Fe), mangan (Mn). molybdenum (Mo) dan seng (Zn). Pupuk adalah senyawa yang mengandung unsur hara yang akan diberikan pada tanaman kemudian digunakan oleh tanaman untuk melakukan proses metbolisma sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang. Pupuk untuk tanaman dapat digolongkan kepada pupuk organik an anorganik. Pupuk anorgani adalah pupuk buatan yang diproduksi oleh pabrik, sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang merupakan hasil penguraian mikroba dekomposer sehingga membentuk senyawa-seyawa 168 sederhana yang siap diserap oleh tanaman (Nurwandani, 2008).
            Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan antar tanaman maupun antara tanaman dengan gulma untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari maupun ruang tumbuh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan jarak tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum maka akan diperoleh ILD yang optimum dengan pembentukan bahan kering yang maksimum. Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman menghambat pancaran cahaya ke permukaan lahan sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat, disamping juga laju evaporasi dapat ditekan. Namun pada jarak tanam yang terlalu sempit mungkin tanaman budidaya akan memberikan hasil yang relatif kurang karena adanya kompetisi antar tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak tanam yang optimum untuk memperoleh hasil yang maksimum (Mayadewi, 2007).
            Populasi tanaman atau jarak tanam pada jagung sangat tergantung dengan Varietas, lingkungan pertumbuhan tingkat kesuburan tanah dan distribusi curah hujan atau ketersediaan air. Untuk jagung hibrida pada umumnya jarak tanam yang digunakan adalah 75 X 25 cm (satu tanama settiap lubang) pada musim hujan dan 75 X 20 (satu tanaman setiap lubang) pada musim kemarau , untuk memudahkan oprasi alat penyiang ataupun alsin pembuat alur. Pada MK 2 dengan priode tumbuh yang relative singkat, yang lebih banyak ditanam adalah jagung bersari bebas dengan umur genjah (Gumarang). Untuk itu jarak tanam dapat lebih ditingkatkan dengan pengaturan jarak tanam yang lebih rapat, yaitu 70 X 20 cm, satu tanaman setiap lubang (Bakhri, 2007).
            Dalam menilih benih jagung pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih. Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tetapi jagung hibrida mempunyai beberapa kelemahan dibandingkan varietas bersari bebas yaitu harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: komposit/bersari beras seperti Lagaligo, Gumarang, Lamuru, Palakka, Sukmaraga, Srikandi Kuning-1, Srikandi Putih-1, Anoman-1 serta hibrida seperti Semar 3, Semar 4, Semar 5, Semar 6, Semar 7, Semar 8, Semar 9, Semar 10, Bima-1, Bima-2 Bantimurung dan Bima 3 Bantimurung. Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman jagung yang sehat pertumbuhannya.  Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti metalaxyl, untuk mencegah serangan penyakit bulai. Untuk mencegah serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya menggunakan insektisida butiran dan sistemik seperti carbofuran (Hanum, 2010).
Irigasi merupakan suatu metode pengairan untuk menyuplai kebutuhan air tanaman. Panjang akar tanaman jagung hanya mencapai25 cm sehingga tidak dapat menjangkau air tanah yang dalam. Oleh karena itu teknik irigasi yang ditawarkan adalah menggunakan irigasi bawah permukaan untuk menyesuaikan kemampuan akar tanaman jagung dalam menjangkau air (Al Omran et al, 2012).
            Penambahan unsur hara pada tanaman atau pemupukan pada budidaya tanaman jagung dapat menimbulkan dampak negatife bagi tanaman dan media.Salah satu contoh adalah penambahan pupuk anorganik. Ketika pemberian pupuk kimia ke dalam tanah zat kimia pupuk dapat menjadi residu didalam tanah sehingga tanah akan berubah menjadi asam sehingga tanaman akan mengalami kematian (Mohammadi et al, 2009).
            Unsur hara makro merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar. Unsur hara makro terdiri dari unsur N, P, K. beberapa unsur tersebut misal unsur N merupakan unsur hara yang digunakan tanaman untuk pertumbuhan tanaman pada fase vegetatifnya. Tidak hanya digunakan dalam pertumbuhan vegetatifnya, unsur N juga dapat membantu proses diferensiasi biji untuk perkembangan generatif tanaman (Ryan et al, 2009).





















BAB 3. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Produksi Tanaman 1 acara Teknik Produksi Tanaman Jagung (Zea mays) dilaksanakan pada hari Senin, 1 Oktober 2012 pukul 14.00 dan bertempat di Laboratorium Klinatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.
             
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1        Bahan
1.    Benih jagung
2.    Benih kedelai
3.    Tanah
4.    Pupuk Urea, KCL dan SP-36
5.    Polybag 40x60
6.    Tanah kering angin (diayak)

3.2.2        Alat
1.    Cangkul
2.    Tugal
3.    Roll meter
4.    Tali rafia
5.    Papan nama
6.    Ayakan
7.    Timba

3.3      Cara Kerja
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2.    Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering angin.
3.    Mengambil sampel tanam kemudian dianalisis dengan sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah meliputi pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.
4.    Memasukkan tanah sebanyak 10 kg kedalam polybag, untuk perlakuan dengan penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air.
5.    Menanam benih jagung dan kedelai pada masing-masing perlakuan, satu lubang diisi 2 benih.
6.    Pemupukan SP-36 dan KCl serta penambahan Bahan Organik sesuai dengan dosis anjuran dari analisis sidik cepat sedangkan untuk pupuk Urea sesuai dengan perlakuan.
7.    Melakukan pengamatan secara rutin























BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel hasil pengamatan pertumbuhan da perkembangan tanaman jagung.
Perlakuan
(kel)
Minggu ke
Rerata tinggi tanaman
(cm)
Rerata jumlah daun
(cm)
Rerata panjang akar
(cm)
Rerata jumlah akar
(cm)
Rerata diameter batang
(cm)
1
1
3,85
4,1
85,95
28,52
4,17
2
25,04
5,52
3
30,125
8
4
65,91
8,58
5
106,23
9,33
6
140,19
10,75
7
179,1
12,5
8
169,55
14,05
2
1
8,25
4,75
77,83
31,71
8,625
2
27,54
5,25
3
56,63
7,55
4
78,93
9,87
5
119,93
10,08
6
143,98
9,3
7
161,3
10,47
8
176,71
12,56



3
1
4,05
19,3



16,15



3,17



32,12


2
6,4
3,5
3
14,73
5,1
4
21,58
5,5
5
39
5,75
6
45,5
6,875
7
57,87
7,8
8
61
8,2
Keterangan :
1. Urea 450 Kg/ha, SP-36 100 Kg/ha, KCl 75 Kg/ha
2. Urea 450 Kg/ha, SP-36 100 Kg/ha, KCl 75 Kg/ha, BO 2 %
3. Kontrol

4.2 Pembahasan
            Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk pangan maupun pakan. Penggunaan jagung untuk pakan mencapai 50% dari total kebutuhan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2000-2004), kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pakan, makanan dan minuman terus meningkat 10-1 5% per tahun (Subekti dkk, 2008).
            Produksi jagung Indonesia dalam periode 1990-2003 belum mampu memenuhi kebutuhan. Status Indonesia dalam perdagangan jagung dunia adalah sebagai net importer, dengan Impor jagung dalam kurun waktu 1990 – 2003 rata-rata 750 ribu ton per tahun. Oleh kerena itu dapat disimpulkan bahwa budidaya tanaman jagung merupakan salah satu usaha yang mimiliki prospek cukup menjanjikan. Di Indonesia, jagung dibudidayakan pada lingkungan yang beragam. Hasil studi 18 tahun yang lalu menunjukkan bahwa sekitar 79% areal pertanaman jagung terdapat di lahan kering, 11 % terdapat di lahan sawah irigasi, dan 10% di sawah tadah hujan. Diperkirakan areal pertanaman jagung pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan meningkat berturut-turut menjadi 10-1 5% dan 20-30%, terutama di daerah produksi jagung komersial. Oleh kerena itu dapat disimpulkan bahwa budidaya tanaman jagung merupakan salah satu usaha yang mimiliki prospek cukup menjanjikan (Subekti dkk, 2008).
            Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae dan mempunyai batang tunggal yang terdiri atas buku dan ruas. Namun terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Daun jagung tumbuh di setiap buku dan berhadapan. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung.
1. Akar
            Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu seminal, adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil dan berkembang menjadi serabut akar tebal. Sedangkan akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah.
2. Batang dan Daun
            Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, yang terdiri ruas dan buku ruas.  Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai dan lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (>9 cm). Bentuk ujung daun ada berbagai macam, antara lain yaitu :
3. Bunga
            Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman namun tergolong tanaman yang melakukan cross pollinated crop. Letak bunga jantan dan betina terpisah, bunga jantan berada di atas sedfangkan betina dibawah, bunga jantan nampak seperti  malai padi namun bercabang. Sedangkan bunga betina berada di atas daun bagian tengah.
 
                  Bunga jantan                                               Bunga betina    
4. Tongkol dan Biji
            Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol dan setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu pericarp, endosperm, dan embrio (Subekti dkk, 2008).
           
            Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung antara lain yaitu :
1. Faktor benih
            Benih berkaitan dengan sifat genetis benih tersebut, mulai dari daya kecambah, rendemen, dll. Setiap benih jagung memiliki kemampuan tumbuh dan berkembang yang berbeda, hal tersebut berkaitang dengan sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh setiap varietas benih jagung.
2. Faktor iklim
            Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah beriklim sedang hingga sub-tropis/tropis. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal yakni sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung yakni antara 21-34 °C dan membutuhkan intensitas cahaya matahari cukup tinggi. Kondisi iklim yang tidak cocok akan berakibat pada perubahan struktur perkembangan tanaman, bahkan dapat menyebabkan kematian.
3. Faktor media (tanah)
            Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol dan tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya. Kemasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5.
4. Faktor ketinggian(m dpl)
            Jagung dapat ditanam di  ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung.
5. Faktor budidaya(agonomi)
a.    Pengolahan tanah
            Bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, dan memberikan kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui pengolahan tanah, drainase dan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Dengan pengolahan yang sesuai maka pertumbuahn tanaman akan lebih optimal.
b.   Pengapuran
            Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus diberi kapur. Jumlah kapur yang diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Hal tersebut berkaitan dengan efek toksik dan ketersediaan hara yang ditimbulkan oleh pH, apabila kondisinya tidak sesuai bagi tanaman jagung.
c.       Cara penanaman
            Faktor ini berkaitan dengan jarak tanam, populasi tanaman,  lubang tanam dll. Jumlah benih yang dimasukkan per lubang, tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang.
d.      Pemupukan
            Kurangnya pupuk akan berdampak pada perkembangan yang tidak optimal, sedangkan kelebihan pupuk akan menimbulkan efek negative bagi tanaman disamping pemborosan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah, dan dosis anjuran adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha. Pemupukan dasar: 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan saat 7 hari setelah tanam, 7 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup tanah. Pemupukan susulan pertama 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 10 cm lalu di tutup tanah. Pemupukan susulan kedua 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.
e.       Pengairan
            Air merupakan unsus penting dan memiliki pengaruh utama pada setiap fase perkembangan tanaman jagung. Air berpengaruh pada pelarutan unsur hara, fotosintesis dll. Namun tanaman jagung tergolong tanaman yang tahan kekeringan dan merupakan tanaman musim kemarau. Pengairan disesuaikan dengan kondisi tanaman dan media (Muis dkk, 2008).
Grafik 1. Perkembangan tinggi tanaman jagung.
Grafik 2. Rerata perkembangan jumlah daun.
            Berdasarkan data yang diperoleh oleh kelompok 3 (kontrol) pada minggu ke-8, tidak menunjukkan adanya pertumbuhan yang optimal, baik tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar dan jumlah akar, secara berurutan yaitu : 61 cm, 8,2 cm, 3,12 cm, 16,15 cm, 3,17 cm. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya dukungan media tanam atau tanah untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman. Hal tersebut akibat tanah yang tergolong miskin hara dan ditambah lagi tidak adanya pemupukan (input) pada perlakuan tersebut (kontrol).
            Jika dilihat dari hasil pengamatan 3 perlakuan yaitu : perlakuan 1 (NPK), perlakuan 2 (NPK+BO 2 %) dan perlakuan 3 (Kontrol). Hasil perkembangan organ vegetatif tanaman secara keseluruhan, yang terbaik diperoleh pada perlakuan 2, yaitu dengan penambahan Urea 450 Kg/Ha, SP-36 100 Kg/Ha, Kcl 75 Kg/Ha, BO 2 %. Sedangkan pada perlakuan 1 (Urea 450 Kg/Ha, SP-36 100 Kg/Ha, Kcl 75 Kg/Ha) berada di urutan kedua, dan hasil terburuk diperoleh pada perlakuan kontrol. Hal tersebut dikarenakan pemberia pupuk pada perlakuan 2 sesuai dengan fase dan kebutuhan tanaman, sehingga unsur untuk perkembangan tanaman tersedia secara konsisten. Pupuk tersedia secara konsisten dikarenakan pemupukan dilakukan pada 3 fase yaitu sebagai pemupukan dasar, susulan pertama (7 HST) dan kedua (14 HST). Sehingga pada perlakuan 2 memiliki perkembangan yang baik, selain itu pada perlakuan 2, aplikasi bahan organic juga membantu memperbaiki proses penyerapan hara tanaman, disamping cocok bagi perkembangan organisme, perbaikan sifat fisik dan kimia tanah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan 2 memiliki hasil terbaik karena memiliki sifat fisik yang lebih baik(pemberian BO) serta sifat kimia yang sesuai(ketersediaan hara dari pupuk NPK dan bahan organic).
            Pada perlakuan 1, tidak jauh berbeda dengan perlakuan 2, namun pada perlakuan ini, hasil yang diperoleh tidak sama dengan perlakuan 2. Hal tersebut dikarenakan perbadaan kandungan bahan organic, karena pada perlakuan ini kandungan BO yang memiliki fungsi seperti pada perlakuan 2, tidak tersedia dengan cukup, diakibatkan tidak adanya pengaplikasian BO. Sedangkan pada perlakuan kontrol, perkembangan tidak optimal pada tanaman dikarenakan tidak adanya aplikasi pemupukan baik NPK maupun BO sama sekali, sehingga perkembangan tidak optimal, dan hasil tidak maksimal.
            Pengaruh pemupukan dalam budidaya tanaman jagung terlihat sanngat nyata. Tanaman jagung dengan ketersediaan hara yang tercukupi dan berimbang, yang diperoleh dari pemupukan menunjukkan perkembangan organ vegetative yang lebih optimal dan menampakkan karakteristik yang dimilikinya. Hal tersebut dikarenkan kecukupan unsur hara akan menunjang beberapa aktifitas yang tanaman mulai dari perombakan unsur hara, aktifitas fotosintesis, serta aktifitas kimia lain yang dilakukan oleh tanaman. Dengan aktivitas yang optimal maka perkembangan vegetative akan lebih sesuai, dan menunjang pada saat tanaman memasuki fase generative, sehingga proses pengisian buah atau tongkol dan perombahan fotosintat akan mendukung proses penyimpanan cadangan makanan. Sehingga akan dihasilkan buah atau tongkol, dengan kwalitas dan jumlah yang sesuai dengan karakteristik atau varietasnya.
            Dari praktikum yang dilaksanakan, pemupukan yang optimal adalah pemupukan yang memperhatikan beberapa aspek seperti :
1.      Jenis dan kondisi media
2.      Jenis dan kebutuhan unsur hara tanaman
3.      Waktu budidaya dan tujuan penanaman.
            Dari praktikum yang dilaksanakan pemupukan yang direkomendasikan adalah pemupukan dengan 3 tahap pengaplikasian yaitu pada pemupukan dasar, susulan pertanam (7 HST) dan sususlan ke2 (14 HST), namun menyesuaikan dengan tujuan budidaya. Pada setiap tahap pemupukan, dosis yang diberikan adalah 1/3 dari pupuk (NPK). Pada umunnya, dalam budidaya tanaman, pupuk yang dianjurkan mulai tanam, hingga panen adalah Urea 450 Kg/ha, SP-36 100 Kg/ha, KCl 75 Kg/ha. Namun untuk memperoleh hasil yang lebih optimal, disarankan untuk menambahkan bahan organic sebagai pendamping pupuk kimia yang diberikan, serta untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah.







BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain yaitu :
1.      Setiap dosis pupuk memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pekembangan tanaman jagung, hal tersebut dibuktikan dengan perbedaan perkenbangan organ vegetatif tanaman jangung antara kontrol dan 2 perlakuan lain.
2.      Pertumbuhan tanaman jagung dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai dari iklim, media tanam, ketinggian, dan agronomis. Ketidak sesuaian faktor-faktor tersebut dapat menurunkan laju perkembangan tanaman, bahkan dapat mengakibatkan kematian.
3.      Tanaman jagung memiliki 3 fase dimana diperlukan pemupukan, yaitu pra tanam(pupuk dasar), susulan pertama(30 HST), susulan kedua(45 HST).

5.2 Saran
            Pemupukan hendaknya dilakukan dengan tepat dan benar, misal waktu pemupukan, dosis pemupukan, jenis pupuk, kebutuhan tanaman semuanya harus sesuai.



DAFTAR PUSTAKA

Akmal. 2008. Strategi Pemuliaan Jagung Untuk Karakter Toleransi Terhadap Cekaman Kekeringan. Percikan 92(1):77-85.

Al Omran et al. 2012. Management of Irrigation Water Salinity in Greenhouse Tomato Production under Calcareous Sandy Soil and Drip Irrigation. Agricultural Science And Technology.14:939-950.

Bakhri, S. 2007. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Jagung dengan Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu. Departemen Pertanian BPTP : Sulawesi Tengah 

Fitter dan Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.

Mayadewi, Ni Nyoman Ari. 2007. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Gulma dan Hasil Jagung Manis. Agritrop. 24(4): 153-159.

Mohammadi et al. 2009. Cumulative and Residual Effects of Organic Fertilizer Application on Selected Soil Properties, Water Soluble P, Olsen-p and P Sorption Index. Agricultural Science And Technology. 11: 487-497.

Muis, Dkk. 2008. Petunjuk Teknis Teknologi Pendukung Pengembangan Agribisnis Di Desa P4mi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Sulawesi Tengah

Nurwardani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih Jilid 1. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.

Ryan et al. 2009. Nitrogen Fertilizer Response of Some Barley Varieties in Semi-Arid Conditions in Morocco. Agricultural Science And Technology. 11: 227-236.

Salisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Dua Biokimia Tumbuhan Edisi Keempat. Bandung: ITB.


Subekti, Dkk. 2008. Morfologi Tanaman Dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar