Wednesday, December 5, 2012

LAPORAN TEKNIK MEDIA TANAM JURUSAN HPT UJI BIOLOGI NEMATODA DAN PATOGEN DALAM TANAH




LAPORAN
TEKNIK MEDIA TANAM JURUSAN HPT

UJI BIOLOGI NEMATODA DAN PATOGEN DALAM TANAH









NAMA            : REZKI HERU ADITYA
NIM                : 111510501122
GOL/KELAS : JUM’AT / C





JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012



I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Dalam budidaya tanaman baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim, ada beberapa beberapa faktor penting yang harus diperhatikan, diantara faktor-faktor tersebut, yang sering kita jumpai salah satunya adalah fakor hama penyakit tanaman. Penyakit tanaman tersebut bisa berasal dari berbagai macan organisme penyakit tanaman. Organisme penyakit tanaman tersebut bisa berasal dari berbagai aspek misal terbawa oleh angin, air dan media tanam. Salah satu penyebab penyakit adalah media tanam yang tidak bebas OPT.
            Pada dasarnya media tanam merupakan tempat dimana tanaman tersebut akan tumbuh dan menjalankan siklus hidupnya. Media tanam juga merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan tanaman, karena media tanam berkaitan dengan ketersediaan nutrisi, pertumbuhan akar serta organisme penyakit tanaman. Oleh karena itu jenis dan sifat media tanam, baik media tanam dari tanah maupun nontanah sangat berpengaruh terhadap baik atau tidaknya pertumbuhan tanaman. Media tanam akan membantu pertumbuhan tanaman apabila media tersebut memiliki sifat kimia maupun fisik yang sesuai, namun media tersebut juga dapat menjadi penghambat pertumbuhan tanaman apabila media tersebut tidak steril dari organisme penyakit tanaman.
            Selain menjadi tempat tumbuh bagi tanaman, pada media tanam juga terdapat organisme pengganggu tanaman baik jamur, nematoda dan patogen. Sehingga dengan demikian untuk memperoleh produktifitas tanaman yang optimal tanpa adanya gangguan dari nematoda maupun patogen tanah, diperlukan upaya pencegahan terjadinya serangan hama dan penyakit yang disebakan oleh media tanam yang kurang baik, maka sebelum melakukan proses budidaya tanamam, media tanam yang digunakan harus benar-benar dipersiapakan. Persiapan tersebut bertujuan untuk mensterilkan atau memilih media yang baik agar tidak timbul masalah oleh adanya hama dan penyakit yang berasal dari media tanam yang digunakan.
            Berbagai macam masalah yang ditimbulkan oleh nematoda dan patogen tanah tersebut antara lain terjadi perubahan fisik dari tanaman, pertumbuahan yang tidak optimal serta kematian pada tanaman. Sehingga dalam budidaya tanaman dilakukan berbagai macam cara pengendalian, baik dengan menggunakan energi panas, seperti sterilisasi tenaga surya, sterilisasi uap dan sterilisasi dengan perlakuan air panas, atau dengan cara menyangrai media tanam. Namun beberapa cara sterilisasi, salah satunya sterilisasi sederhana memerlukan banyak tenaga kerja untuk proses memindahkan tanah dari dan ke dalam tempat proses sterilisai. Hal tersebut dikarenakan wadah sterilisai tersebut umumnya ditempatkan pada bangunan atau leb yang terpisah dari lahan. Sehingga diperlukan biaya tambahan untuk proses ini. Oleh karena itu diperlukan metode lain yang lebih mudah dan tidak terlalu banyak membebani pada biaya produksi.
            Salah satu medote atau cara lain yang dapat digunakan digunakan adalah dengan uji biologi media tanam. Dengan metode ini dapat diketahui tingkat kesterilan media dari organisme penyakit tanaman tanpa adanya biaya yang membebani pada modal budidaya. Metode ini adalah metode pengujian yang dilakukan pada media tanam dengan menggunakan tanaman sebagai indikator. Pengujian dilakukan berdasarkan gejala yang ditimbulkan oleh nematoda dan patogen tanah yang nampak pada tanaman indikator. Dalam praktikum ini tanaman yang digunakan adalah tanaman tomat.

1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah agar praktikan mengerti dan memahami cara melakukan uji biologi nematoda dan patogen pada media tanam, serta mengetahui gejala serangan dan cara pengendaiannya.






II. TINJAUAN PUSTAKA

            Menurut PP Nomor 6 tahun 2005 tentang Perlindungan Tanaman, terdapat beberapa diskripsi diantaranya adalah perlindungan tanaman dilaksanakan pada masa pra tanam, masa pertumbuhan tanaman, dan atau masa pasca panen. Perlindungan tanaman dari OPT pada masa pra tanam dilaksanakan sejak penyiapan lahan atau media tumbuh lainnya sampai dengan penanaman. Perlindungan tanaman dari OPT pada masa pertumbuhan tanaman dilaksanakan sejak penanaman sampai dengan panen. (Nurwandani, 2008)
            Media tumbuh tanaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman untuk mendapatakan hasil optimal. Media tumbuh yang baik diantaranya memiliki sifat fisik, dan kimia yang baik, serta bebas OPT. sifat fisik diantaranya gembur dan mempunyai kemampuan menahan air lama karena kondisi fisik tanah sangat penting untuk berlangsungnya kehidupan tanaman mulai dari bibit hingga dewasa, media tanam juga mempengaruhi adanya mikrorganisme pengganggu tanaman (Fatimah dkk, 2008).
            Populasi berbagai jenis mikroorganisme di dalam tanah, baik yang bermanfaat atau merugikan bagi pertanian. Contohnya komunitas bakteri, fungi, alge, dan protozoa diketahui berfungsi dalam aerasi tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman, mempertahankan struktur tanah, memurnikan air dari kontaminasi, dan mendaur ulang unsur-unsur hara dan bahan organik yang bermanfaat bagi tanaman. Namun demikian banyak juga mikroorganisme tanah yang merugikan bagi pertanian, sehingga keberadaannya disebut sebagai patogen tular tanah. Patogen tular tanah (soil-borne pathogens) merupakan kelompok mikroorganisme yang sebagian besar siklus hidupnya berada di dalam tanah dan memiliki kemampuan untuk menginfeksi perakaran atau pangkal batang, sehingga dapat menyebabkan infeksi dan kematian bagi tanaman. Ciri-ciri utama dari patogen tular tanah adalah mempunyai stadia pemencaran dan masa bertahan yang terbatas di dalam tanah, walaupun beberapa patogen tular tanah ini dapat menghasilkan spora udara sehingga dapat memencar ke areal yang lebih luas.(Hidayah dan Djajadi, 2009).
            Suatu Patogen atau jasad renik (mikroba) mengambil bagian pada suatu penyakit tumbuhan, maka pada umumnya dikatakan patogen atau penyebab penyakitnya. Padahal hal tersebut juga dipengaruhi keadaan luar yang telah lebih dulu mengadakan predisposisi, atau melemahkan tumbuhan sehingga tumbuhan dapat rusak, jadi mikroba itu bukan satu-satunya penyebab penyakit. Penyakit tumbuhan merupakan serangkain dari masalah bididaya tanaman (Semangun, 1993).
            Beberapa jenis penyakit pada tumbuhan dapat diketahui penyebabnya melalui pengamatan dengan mata telanjang atau dengan menggunakan mikroskop. Namun ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan pathogen baik itu jamur dan bakteri yang patogennya tidak dapat diidentifikasi dikarenakan patogen tersebut belum menghasilkan struktur tubuh dan spora tertentu yang menjadi ciri khasnya dari pathogen tersebut, sehingga dalam pengatan tidak dapat dikenali secara pasti. Bahkan pada beberapa jenis patogen yang telah diketahuipun juga memerlukan proses isolasi dari jaringan tumbuhan yang mengalami seranag patogen apabila ingin mengetahui sifat, jenis serta kebiasaan  patogen tersebut (Tohari, 1992).
            Patogen tanaman dapat berupa jamur yaitu organisme yang umumnya berbentuk benang, dapat menghasilkan spora. Intinya jelas dan dapat dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa 100-400 kali. Sedangkan bakteri adalah mikro-organisme yang lebih kecil dari jamur, mempunyai sel tunggal atau berkoloni, berbentuk seperti batang, koma atau rantai. Patogen yang lain adalah bakteri yaitu mikroba yang dapat dilihat dengan pembesaran 100-1600 kali dan harus menggunakan minyak emersi (Nurwandani, 2008).
            Patogen yang terdapat di dalam tanah diantaranya adalah fungi dan bakteri. Fungi atau jamur dapat memperbanyak diri dengan membentuk spora, berkuntum atau secara fragmen. Pada fungi sporangiospora kerap dapat bergerak karena bercemeti dan dinamakan zoospora. Sedangkan bakteri merupakan kelompok mikroorganisme dalam tanah yang paling dominan dari biomassa mikroba dalam tanah. Secara umum, profil horizon A terdiri dari lebih banyak mikroorganisme daripada horizon B dan C. Dalam kondisi anaerob (tidak ada oksigen), bakteri dapat mendominasi tempat dan melaksanakan kegiatan mikrobiologi tanah. Karena jamur dan actinomycetes tidak dapat tumbuh baik secara anaerob atau tanpa adanya oksigen (Rao, 1994).
            Di Indonesia rata-rata metode pengendalian OPT yang diterapkan tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, khususnya tanah. Penggunaan pestisida sintesis yang tidak bijaksana antara lain dapat memusnahkan mikroba berguna di dalam tanah, sehingga patogen khususnya tular-tanah selalu ada dan menjadi masalah pada setiap musim tanam. Salah satu patogen tular-tanah adalah jamur Fusarium oxysporium. Upaya penyehatan tanah secara hayati diperlukan untuk mengembalikan tanah pada kondisi sehat, yaitu menurunkan populasi tulartanah, dengan penambahan agensia hayati di tanah tersebut (Hastopo dkk, 2008).


           

















III. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Praktikum
Pelaksanaan praktikum acara uji biologi adanya hama dan penyakit dalam tanah bertempat di Laoratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Sedangkan waktu pelaksanaan praktikum yaitu pada tanggal 27 April 2012, pukul 07.00- selesai.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Bak pembibitan/Pot plastik
2.      Timba plastik
3.      Mikroskop

3.2.2 Bahan
1.      Media tanam
a.       Tanah
b.      Pasir + Bahan Organik
c.       Sekam +Pupuk + Bahan Organik
2.      Bibit Tomat (Sebagai tanaman indikator)

3.3 Cara Kerja
1.      Memasukkan beberapa macam media tanam kedalam timba plastic/pot plastic masing-masing sesuai perlakuan dan jumlah mahasiswa (kelompok mahasiswa)
2.      Menanami masing-masing timba plastic yang berisi media tanam dengan tanaman indicator (bibit tomat), mendengarkan petunjuk asisten juga
3.      Tanaman indicator dipelihara dengan baik agar tidak mati dan setiap hari dilakukan pengamatan dan hitung jumlah tanaman yang menunjukan gejala dan mendeskripsikan gejalanya untuk menyimpulkan penyebab nematodanya
4.      Menumbuhkan tanaman terus sampai berumur 28 hari setelah tanam

3.4 Pengamatan
1.      Mengamati adanya gejala atau hal lain yang timbul di atas permukaan tanah misalnya tanaman layu, menguning, daun mengelintir, gulama yang tumbuh dan lain-lain dilakukan setiap hari atau tiga hari sekali. Selanjutnya tentukan penyebab penyakitnya berdasar pada gejala yang muncul serta jenis-jenis gulama yang tumbuh
2.      Memasukkan data-data yang diperoleh ke dalam table pengamatan kemudian cari kesimpulannya


















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel hasil pengamatan uji biologi selama 21 hari.
Media
U
Hari ke-
7
14
21
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
KNO
1
H
k
N
HK
k
N
HK
k
N
2
H
k
N
HK
k
N
HKK
k
N
3
H
k
N
HKK
k
N
HKK
k
N
4
H
k
N
BP
k
N
BP
k
N
SNO
1
H
k
N
BH
k
N
BCH
L
Ab
2
H
k
Ab
BH
k
Ab
BH
k
Ab
3
H
k
N
BP
L
N
BK
k
N
4
HCL
L
M
M
M
M
M
M
M
BNO
1
K
k
N
BP
L
Ab
M
M
M
2
HC
k
N
H
k
N
M
M
M
3
H
k
N
H
k
N
M
M
M
4
H
k
N
H
k
N
M
M
M
T.pisang
1
BK
k
N
BK
k
N
BCK
L
N
2
BK
k
N
BK
k
N
BCK
L
N
3
BK
k
N
BK
k
N
M
M
M
4
BK
k
N
BK
k
N
M
M
M
Keterangan :
HCL : Hijau coklat layu      BH: bercak hijau        Ab: abnormal             N: normal        BCH: bercak coklat hijau    BK: bercak kuning    BP: bercak putih                 K: keras                 BCK: bercak coklat kuning BK:bercakkuning      M : mati    H: hijau    L : lunak

4.2 Pembahasan
            Dari praktikum yang dilaksanakan dengan indikator tanaman tomat gejala atau timbulnya keganjalan pada tanaman muncul pada 6 hari setelah tanam, yaitu daun yang semula berwarna hijau berubah menjadi bercak kuning (karat) pada semua perlakuan dan semua ulanagn. Namun perubahan tidak terjadi pada kondisi batang dan bentuk tanaman. Hal tersebut menunjukkan gejala bahwa tanaman mulai terserang penyakit. Berdasarkan karakteristik serangannya, penyakit yang muncul pada tanaman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.    Serangan penyakit dipicu oleh kondisi lingkungan yang lembab. Gejala yang timbul biasanya bibit busuk. Penanganan secara mekanis dapat dilakukan dengan penjarangan bibit, wiwil daun, serta pemindahan bibit ke open area, dengan tujuan untuk mengurangi kelembaban.
2.    Serangan penyakit dipicu oleh hujan malam hari/dini hari pada awal musim hujan (penyakit embun upas).
   Penyakit bercak daun Pestalotia muncul pada 6 HST tersebut merupakan awal kerusakan struktur daun tanaman. Gejala kerusakan diawali dengan timbulnya bercak-bercak kuning padadaun, lalu meluas sehingga daun-daun jarum tampak menguning (klorosis). Gejala lebih lanjut berupa mengeringnya (nekrosis) daun-daun diawali dari pucuk daun jarum ke arah pangkal, dari bagian daun bagian bawah kemudian menyebar.
            Pada hari ke-6 setelah tanam sampai dengan14 hari setelah tanam tidak ada perubahan gejala yaitu gejala masih tetap pada daun yang berwarna kuning (bercak). Namun pada hari ke-15 sampai hari ke-21 mulai ada gejala penyakit layu lunak pada batang dan bercak coklat karat pada daun serta metinya beberapa tanaman. Penyakit layu atau busuk semai serangan penyakit pada persemaian terjadi pada kondisi lingkungan yang lembab, biasanya pada musim hujan. 
            Jadi dari data yang diperoleh, pada tabel diatas secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa pada setiap perlakuan menunjukkan indikasi serangan penyakit yang berbeda. Jumlah tanaman mati terbanyak terdapat pada media dengan perlakuan bahan organic+tanah (BNO), namun sebelum mati tanaman tidak menunjukkan adanya gejala serangan penyakit, jadi faktor kematian tersebut selain oleh patogen kemungkinan besar dapat dikarenakan juga oleh faktor luar seperti perawatan yang tidak optimal.  Sedangkan gejala penyakit paling banyak ditemukan pada perlakuan KNO (tanah), hal terbut menunjukkan banyknya pathogen pada media tersebut. Kemudian disusul oleh SNO (Sekam+tanah) dan tanah pisang. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tanah terdapat berbagai macam patogen baik yang berasal dari kondisim lingkungan, terbawa angin maupun jenis tanah yang digunakan.
Penyebaran penyakit dapat dibantu oleh angin yang didukung oleh kelembaban udara. Intensitas penyakit sangat dipengaruhi oleh tanaman terinfeksi pada musim sebelumnya. Gejala Serangan tanaman layu dimulai dari pucuk (daun muda) menjalar ke daun bagian bawah sampai seluruh daun layu dan tanaman mati. Sedangkan gejala penyakit yang disebabkan oleh jamur Pestalotia sp yaitu jenis jamur yang menjadi penyebab penyakit bercak daun pada tanaman. Ciri-ciri dari jamur Pestalotia sp. adalah menimbulkan bercak-bercak pada daun dengan area nekrosa yang tampak kering pada bagian tengahnya, berbintik-bintik kecil (cairan) yang berwarna hitam yang disebut acervuli jamur. Pada bagian pinggir serangan tampak berwarna coklat atau merah jika menyerang tanaman. Cara penanganan penyakit tanaman pada prinsipnya digolongkan menjadi :
1.    Eksklusi yaitu usaha mencegah masuknya penyakit ke daerah baru atau mencegah adanya penyebaran atau perluasan area infeksi misal pada media tanam.
2.    Eradikasi yaitu menurunkan, menginaktifkan atau membasmi pathogen yang merupakan upaya penanggulangan setelah terserang.
3.    Proteksi yaitu usaha memberi perlindungan pada tanaman atau menghalangi terjadinya kontak antara inang dengan pathogen sehingga tdak terjadi penularan.
4.    Resistensi yaitu usaha untuk mengurangi dampak perusakan akibat penyakit melalui inang dengan membuat ketahanan atau proteksi pada inang tersebut.



V. PENUTUP

5.1  Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Media yang mengalami kematian terbanyak adalah BNO, namun tidak menunjukkan gejala penyakit, sedangkan media yang banyak menunjukkan gejalapenyakit adalah SNO.
2.      Media tanam yang digunakan selain menunjang pertumbuhan tanaman juga dapat menjadi penyebab matinya tanaman apabila tidak steril dari pathogen penyebab penyakit tanaman.
3.      Setiap jenis pathogen baik jamur, virus maupun bakteri memiliki gejala dan penanganan yang berbeda. Sehingga diperlukan uji biologi untuk mengenali dan melakukan penanganan yang sesuai.

5.2  Saran
Sebaiknya pengamatan dilakukan dengan hati-hati agar dapat mengerti dan memahami ciri ciri gejala patogen yang menyerang tanaman tersebut dalam teknik media tanam.












DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, Siti, Dkk. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata, Nees). Jurnal Embriyo Vol.5 No.2.

Hastopo, dkk. 2008. Penyehatan Tanah secara Hayati di Tanah Tanaman Tomat Terkontaminasi Fusarium oxysporum F.SP. lycopersici. Jurnal Akta Agrosia. Vol. 11 No.2.

Hidayah, Nurul. Djajadi. 2009. Sifat-Sifat Tanah Yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen Tular Tanah Pada Tanaman Tembakau. Jurnal Perspektif Vol. 8 No. 2

Nurwandani, Paristianti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih Jilid 1. Jakrta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Rao. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Universitas Indonesia. Jakarta.

Semangun, H. 1993. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Di Indonesia. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tohari. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Untung, Kasumbogo. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.





No comments:

Post a Comment

Produksi Tanaman Kedelai

UNVERSITAS JEMBER FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN LABORATORIUM PRODUKSI TANAMAN LAPORAN PRAKTIKUM NAMA              ...